SEMARANG – Planetarium dan Observatorium K.H. Zubair Umar Al-Jailani UIN Walisongo Semarang kembali menggelar kegiatan rukyatul hilal, Kamis (13/8/2026). Berbeda dari pelaksanaan rukyah pada umumnya yang lebih banyak diikuti kalangan ahli falak dan organisasi keagamaan, pemantauan hilal awal Rabiul Awal 1448 H kali ini sengaja dibuka lebih luas bagi masyarakat umum.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo untuk “membumikan” rukyatul hilal, sehingga masyarakat tidak hanya mengenal proses penentuan awal bulan Hijriah melalui tayangan televisi atau pemberitaan media, tetapi dapat menyaksikan secara langsung bagaimana hilal dicari, diamati, dihitung, dan diverifikasi secara ilmiah.
Sekitar 50 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Mereka berasal dari mahasiswa Ilmu Falak, pegiat dan perwakilan organisasi kemasyarakatan (ormas), serta masyarakat umum. Menariknya, hampir separuh peserta merupakan masyarakat umum yang sengaja hadir untuk mengetahui secara langsung proses observasi hilal.
Dari Layar Televisi ke Depan Teleskop
Selama ini, bagi sebagian masyarakat, istilah rukyatul hilal lebih banyak dikenal ketika menjelang Ramadan, Idulfitri, atau Iduladha. Masyarakat biasanya menyaksikan melalui layar televisi para perukyat berdiri di lokasi pengamatan sambil mengarahkan teleskop ke ufuk barat.
Namun, apa yang sebenarnya dilakukan para perukyat, bagaimana menentukan posisi hilal, ke mana teleskop diarahkan, bagaimana data astronomi dihitung, dan bagaimana sebuah pengamatan dapat dinyatakan berhasil, belum banyak diketahui masyarakat secara langsung.
Karena itulah, Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo kali ini secara khusus mengajak masyarakat untuk hadir dan terlibat dalam proses edukasi rukyah.
Kepala Planetarium dan Observatorium K.H. Zubair Umar Al-Jailani UIN Walisongo Semarang, Dr. H. Muh. Arif Royyani, Lc., M.S.I., M.Si., menjelaskan bahwa keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dari literasi astronomi Islam.
“Selama ini masyarakat mungkin hanya mengetahui rukyatul hilal dari layar televisi, terutama menjelang Ramadan dan Idulfitri. Kali ini kami sengaja mengundang masyarakat umum agar mereka dapat melihat sendiri bagaimana proses rukyah dilakukan, mulai dari membaca data astronomi, menentukan posisi hilal, menggunakan instrumen, hingga melakukan observasi langsung,” katanya.
Menurutnya, rukyatul hilal bukan semata-mata aktivitas melihat bulan sabit muda, tetapi merupakan proses yang mempertemukan fikih, astronomi, teknologi observasi, dan ketelitian ilmiah.
“Dengan melihat langsung, masyarakat akan memahami bahwa penentuan awal bulan Hijriah memiliki proses yang sangat serius. Di dalamnya ada hisab, ada observasi, ada instrumen, ada kondisi atmosfer, dan tentu ada ketentuan syariat yang menjadi landasannya,” jelasnya.
Masyarakat Antusias Ikuti Proses Rukyah

Antusiasme masyarakat terlihat selama kegiatan berlangsung. Peserta tidak sekadar hadir sebagai penonton, tetapi mendapatkan kesempatan memahami data posisi Bulan dan Matahari serta proses persiapan teleskop sebelum pengamatan dilakukan.
Bagi sejumlah peserta dari masyarakat umum, kegiatan ini menjadi pengalaman pertama melihat secara dekat proses rukyatul hilal dengan perangkat observasi astronomi.
Kegiatan dimulai sekitar pukul 16.00 WIB di kompleks Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo Semarang. Para peserta mendapatkan penjelasan mengenai dasar-dasar rukyatul hilal, posisi benda langit, kondisi hilal, serta teknik pengamatan sebelum kemudian mengikuti observasi.
Momentum ini sekaligus menjadi ruang perjumpaan antara kalangan akademisi, mahasiswa ilmu falak, organisasi kemasyarakatan, praktisi rukyah, dan masyarakat.
Hilal Berhasil Teramati

Pengamatan sore itu membuahkan hasil. Hilal awal Rabiul Awal 1448 H berhasil teramati dari lokasi observasi Planetarium dan Observatorium K.H. Zubair Umar Al-Jailani UIN Walisongo Semarang.
Berdasarkan data astronomi yang digunakan dalam kegiatan, posisi hilal saat pemantauan memiliki parameter:
– Tinggi hilal: 07° 29′ 04,68″
– Elongasi: 9° 29′ 50,00″
– Umur hilal: 17 jam 02 menit 54 detik
– Iluminasi: 0,56 persen
Keberhasilan tersebut semakin menarik bagi peserta karena mereka dapat mengikuti secara langsung hubungan antara angka-angka dalam perhitungan astronomi dengan kondisi hilal yang kemudian dicari di langit melalui instrumen observasi.
Menurut Arif Royyani, pengalaman semacam ini penting untuk membangun pemahaman bahwa hisab dan rukyah tidak harus dipertentangkan. Keduanya justru dapat ditempatkan secara integratif dalam proses penentuan awal bulan Hijriah.
“Hisab memberikan informasi kepada kita tentang di mana posisi hilal berada dan bagaimana karakteristiknya. Rukyah kemudian menjadi proses observasi empiris di lapangan. Di sinilah ilmu falak menunjukkan karakter integratif antara khazanah fikih dengan sains astronomi,” terangnya.
Rukyah Tidak Hanya Menjelang Ramadan
Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo juga ingin mengubah kesan bahwa rukyatul hilal hanya dilakukan menjelang Ramadan, Syawal, dan Zulhijah.
Pengamatan hilal sejatinya dapat dilakukan setiap awal bulan Hijriah. Observasi secara rutin bahkan mempunyai nilai penting untuk pendidikan, penelitian, pengujian data astronomi, peningkatan kemampuan observer, serta pengembangan teknologi pengamatan hilal.
Karena itu, pemantauan hilal Rabiul Awal ini sekaligus menjadi sarana edukasi bahwa kalender Hijriah merupakan sistem penanggalan yang sangat erat kaitannya dengan dinamika posisi Matahari, Bumi, dan Bulan.
“Rukyah setiap bulan mempunyai nilai ilmiah yang sangat besar. Semakin banyak data observasi yang kita miliki, semakin banyak pula bahan yang dapat digunakan untuk pendidikan dan penelitian hilal,” tambah Arif Royyani.
Menjadikan Observatorium sebagai Ruang Belajar Masyarakat
Kegiatan ini sekaligus menegaskan komitmen Planetarium dan Observatorium K.H. Zubair Umar Al-Jailani UIN Walisongo Semarang untuk tidak hanya menjadi fasilitas akademik kampus, tetapi juga menjadi ruang edukasi astronomi bagi masyarakat.
Masyarakat diharapkan semakin akrab dengan astronomi Islam dan memahami bahwa ilmu falak mempunyai hubungan langsung dengan praktik keberagamaan umat Islam, mulai dari penentuan waktu salat, arah kiblat, gerhana, hingga penentuan awal bulan Hijriah.
Keterbukaan observatorium kepada publik juga diharapkan dapat memperkuat literasi masyarakat sehingga diskursus mengenai hilal dan perbedaan awal bulan Hijriah tidak hanya dipahami dalam konteks perdebatan, tetapi juga melalui perspektif keilmuan.
“Kami ingin masyarakat tidak hanya mendengar kata hilal, tetapi juga pernah melihat bagaimana hilal itu dicari. Tidak hanya mengetahui hasil rukyah, tetapi memahami prosesnya. Dari sinilah literasi falak masyarakat kita bangun,” pungkas Arif Royyani.
Keberhasilan mengamati hilal Rabiul Awal 1448 H sore itu pun menghadirkan pengalaman berbeda bagi para peserta. Dari yang sebelumnya hanya menyaksikan rukyatul hilal melalui layar televisi, kini masyarakat dapat berdiri langsung di balik teleskop dan menyaksikan bagaimana fikih, astronomi, teknologi, dan tradisi rukyah bertemu di ufuk barat UIN Walisongo Semarang.
