SEMARANG – Planetarium dan Observatorium K.H. Zubair Umar Al-Jailani UIN Walisongo Semarang terus melakukan inovasi dalam pengembangan pendidikan dan literasi astronomi. Kali ini, Planetarium dan Observatorium mulai menggandeng produser serta praktisi perfilman untuk memproyeksikan pembuatan film edukasi astronomi yang tidak hanya kuat secara sains, tetapi juga mengangkat kearifan lokal (local wisdom) dan paradigma Unity of Sciences sebagai karakter khas UIN Walisongo Semarang.
Kolaborasi tersebut diarahkan untuk melahirkan karya audiovisual yang dapat menghadirkan astronomi dengan pendekatan yang lebih dekat, menarik, dan mudah dipahami masyarakat. Film dirancang tidak sekadar menampilkan keindahan benda-benda langit, tetapi menghubungkan fenomena astronomi dengan kebudayaan Nusantara, sejarah peradaban Islam, khazanah ilmu falak, serta nilai-nilai keislaman.
Astronomi Tak Hanya Bicara Langit
Kepala Planetarium dan Observatorium K.H. Zubair Umar Al-Jailani UIN Walisongo Semarang, Dr. H. Muh. Arif Royyani, Lc., M.S.I., M.Si., menyampaikan bahwa film menjadi salah satu media strategis untuk membawa astronomi semakin dekat dengan masyarakat.
Menurutnya, pembelajaran astronomi tidak seharusnya berhenti pada penyampaian teori mengenai planet, bintang, galaksi, ataupun sistem tata surya.
“Kami ingin menghadirkan film astronomi yang tidak sekadar mengajak penonton melihat langit, tetapi juga mengajak mereka memahami hubungan antara langit, manusia, budaya, agama, dan peradaban. Di situlah Unity of Sciences menjadi ruh yang membedakan film yang ingin kami kembangkan,” katanya.
Konsep tersebut sekaligus menjadi upaya menerjemahkan paradigma keilmuan UIN Walisongo ke dalam media pendidikan yang lebih populer.
Astronomi modern nantinya akan dipertemukan dengan khazanah Islam dan pengetahuan lokal yang telah lama hidup di tengah masyarakat Nusantara.
Mengangkat Local Wisdom Nusantara
Salah satu keunikan yang diproyeksikan dalam pengembangan film ini adalah pengangkatan kearifan lokal masyarakat Indonesia dalam membaca langit.
Sejak masa lampau, masyarakat Nusantara telah mempunyai pengetahuan mengenai Matahari, Bulan, bintang, musim, arah, waktu, dan kalender. Pengetahuan tersebut hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari tradisi pertanian, pelayaran, penanggalan, arsitektur, hingga praktik keagamaan.
Kekayaan tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk dikemas kembali menggunakan pendekatan sinematografi modern.
“Indonesia mempunyai khazanah astronomi budaya yang sangat kaya. Leluhur kita membaca bintang untuk menentukan musim dan arah perjalanan. Dalam tradisi Islam, ilmu falak berkembang untuk menentukan waktu salat, arah kiblat, awal bulan Hijriah, dan gerhana. Semua ini adalah kekayaan pengetahuan yang sangat menarik apabila divisualisasikan melalui film,” ujar Arif Royyani.
Dengan pendekatan tersebut, film diharapkan mampu memperkenalkan astronomi bukan sebagai ilmu yang jauh dari kehidupan sehari-hari, melainkan sebagai ilmu yang sejak lama tumbuh bersama perjalanan peradaban manusia.
Dari Ilmu Falak hingga Unity of Sciences
Film edukasi yang diproyeksikan tersebut juga akan mempertemukan beberapa perspektif sekaligus: astronomi, ilmu falak, fikih, sejarah, budaya, lingkungan, dan spiritualitas Islam.
Pendekatan multidisipliner tersebut sejalan dengan paradigma Unity of Sciences UIN Walisongo Semarang yang mendorong dialog dan integrasi antara ilmu-ilmu keislaman, ilmu pengetahuan modern, serta realitas sosial dan budaya.
Sebagai contoh, tema mengenai Bulan tidak hanya dapat dijelaskan dari sisi orbit dan fase-fasenya, tetapi juga dihubungkan dengan kalender Hijriah, rukyatul hilal, tradisi masyarakat dalam membaca perubahan bulan, hingga ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara mengenai keteraturan benda-benda langit.
Demikian pula pembahasan Matahari dapat dihubungkan dengan sistem tata surya, waktu salat, penentuan arah, kalender, serta berbagai tradisi lokal yang memanfaatkan perjalanan semu harian dan tahunan Matahari.
Konsep inilah yang diharapkan dapat menghasilkan pengalaman menonton yang tidak hanya informatif, tetapi juga reflektif dan inspiratif.
Produser Film Dilibatkan Sejak Tahap Konseptual

Pelibatan produser dan praktisi perfilman dinilai penting agar substansi ilmiah yang cukup kompleks dapat diterjemahkan menjadi bahasa visual dan cerita yang menarik.
Kolaborasi antara astronom, ahli ilmu falak, akademisi, budayawan, penulis naskah, serta insan perfilman nantinya diharapkan mampu melahirkan karya yang memiliki kekuatan akademik sekaligus kualitas sinematografi.
Pengembangan tidak hanya diarahkan pada film dokumenter konvensional, tetapi juga membuka kemungkinan produksi film khusus planetarium atau full-dome movie yang dapat memberikan pengalaman imersif kepada penonton.
Jika konsep tersebut terealisasi, pengunjung tidak hanya menonton film pada layar datar, melainkan seolah-olah berada langsung di bawah hamparan langit, melakukan perjalanan melintasi tata surya, menyaksikan gerhana, mengikuti perjalanan Bulan, hingga mengenal jejak astronomi dalam peradaban Nusantara.
Menuju Konten Planetarium Karya Anak Bangsa
Pengembangan film ini juga membawa misi yang lebih besar, yakni mendorong lahirnya konten planetarium karya anak bangsa.
Selama ini sebagian materi film planetarium berasal dari produksi luar negeri. Meski memiliki kualitas visual yang sangat baik, materi tersebut belum tentu menghadirkan konteks keislaman maupun kekayaan kebudayaan Indonesia.
Karena itu, Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo melihat peluang untuk ikut mengembangkan konten astronomi dengan identitas Indonesia.
“Kami mempunyai cita-cita agar suatu saat masyarakat datang ke planetarium bukan hanya menyaksikan bagaimana luar biasanya alam semesta, tetapi juga menemukan Indonesia, menemukan khazanah Islam, dan menemukan identitas peradabannya sendiri di dalam film tersebut,” terang Arif Royyani.
Film tersebut juga diproyeksikan dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran bagi pelajar, santri, mahasiswa, guru, pesantren, madrasah, sekolah, komunitas astronomi, hingga masyarakat umum.
Astronomi sebagai Jembatan Sains, Agama dan Budaya
Lebih jauh, kolaborasi ini merupakan bagian dari upaya Planetarium dan Observatorium K.H. Zubair Umar Al-Jailani untuk mengembangkan planetarium bukan semata-mata sebagai tempat pertunjukan astronomi.
Planetarium diarahkan menjadi ruang perjumpaan antara sains, agama, budaya dan teknologi.
Hal tersebut sekaligus meneruskan semangat keilmuan K.H. Zubair Umar Al-Jailani, tokoh ilmu falak dan Rektor pertama IAIN Walisongo, yang namanya diabadikan sebagai nama Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo Semarang.
Semangat tersebut relevan dengan kebutuhan pendidikan masa kini: memperkenalkan ilmu pengetahuan modern tanpa kehilangan akar sejarah, budaya, dan nilai spiritual.
“Langit adalah laboratorium besar yang dapat dibaca dari banyak perspektif. Astronomi mengajarkan bagaimana alam bekerja, ilmu falak menghubungkannya dengan kebutuhan ibadah, budaya memperlihatkan bagaimana manusia memaknai langit, sedangkan agama mengajak manusia menemukan kebesaran Sang Pencipta. Inilah semangat Unity of Sciences yang ingin kami hadirkan melalui film,” katanya.
Melalui kolaborasi bersama insan perfilman tersebut, Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo berharap dapat melahirkan film edukasi astronomi yang saintifik, Islami, berakar pada kearifan lokal, sekaligus memiliki kualitas visual yang mampu bersaing secara nasional bahkan internasional.
Langkah ini sekaligus menjadi babak baru bagi Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo untuk bergerak dari sekadar menayangkan film astronomi menuju memproduksi pengetahuan dan karya astronomi sendiri.
Dari langit Semarang, sebuah gagasan sedang dipersiapkan: membawa sains, Islam, dan kearifan Nusantara bertemu dalam satu layar semesta.
