JAKARTA, 30 Oktober 2026 – Pengembangan ilmu falak dan astronomi menjadi salah satu perhatian Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., saat mengunjungi stand Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang dalam gelaran Indonesia Ekonomi Syariah (IES) 2026 Forum & Expo di kawasan Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (30/10/2026).
Menteri Agama yang juga menjabat sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal tersebut menyempatkan diri berdialog dengan delegasi UIN Walisongo yang menghadirkan kolaborasi Planetarium dan Observatorium K.H. Zubair Umar Al-Jailani, Fakultas Syariah dan Hukum (FSH), serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI).
Dalam kunjungan tersebut, Menteri Agama menanyakan keberadaan Program Studi Ilmu Falak di FSH UIN Walisongo. Beliau juga mengamati sejumlah instrumen astronomi yang diperkenalkan oleh tim Planetarium. Perhatian tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan salah satu bidang keilmuan yang mempertemukan khazanah keislaman dengan perkembangan sains modern.
Ilmu falak memiliki peran penting dalam kehidupan umat Islam, terutama dalam penentuan arah kiblat, waktu salat, awal bulan Hijriah, serta perhitungan dan pengamatan fenomena gerhana. Dalam perkembangannya, bidang ini juga memanfaatkan teknologi dan instrumen astronomi modern untuk mendukung ketepatan pengamatan maupun perhitungan. Karena itu, pengembangan ilmu falak tidak hanya berkaitan dengan pemahaman keagamaan, tetapi juga membutuhkan penguasaan sains, teknologi, dan metode penelitian.
Kehadiran Program Studi Ilmu Falak bersama Planetarium dan Observatorium menjadi bagian dari ekosistem pengembangan keilmuan tersebut di UIN Walisongo. Pendidikan akademik, penelitian, pemanfaatan instrumen astronomi, dan edukasi kepada masyarakat merupakan ruang kontribusi yang saling melengkapi dalam memperluas pengembangan ilmu falak dan astronomi.
Kepala Planetarium dan Observatorium K.H. Zubair Umar Al-Jailani UIN Walisongo Semarang, Dr. H. Muh. Arif Royyani, Lc., M.S.I., M.Si., menyambut kunjungan Menteri Agama sebagai momentum untuk memperkenalkan potensi UIN Walisongo dalam pengembangan astronomi dan ilmu falak.
Menurutnya, ilmu falak memiliki posisi strategis karena menghubungkan khazanah keilmuan Islam dengan perkembangan astronomi modern serta kebutuhan praktis masyarakat. Oleh karena itu, pengembangannya perlu didukung melalui pendidikan, penelitian, pemanfaatan teknologi, dan kegiatan edukasi yang dapat menjangkau masyarakat luas.
Dalam konteks tersebut, Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo terus diarahkan menjadi pusat pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Melalui fasilitas dan instrumen astronomi yang dimiliki, Planetarium berupaya mendekatkan pengetahuan tentang alam semesta kepada masyarakat sekaligus memperkuat pembelajaran astronomi di lingkungan perguruan tinggi.
Selain memperkenalkan pengembangan ilmu falak dan astronomi, stand UIN Walisongo juga menampilkan produk UMKM binaan FEBI. Salah satunya adalah wedang uwuh, minuman tradisional khas Nusantara berbahan aneka rempah. Menteri Agama turut mencicipi minuman tersebut dalam suasana kunjungan yang berlangsung hangat. Kehadiran produk ini memperlihatkan kontribusi lain UIN Walisongo melalui pendampingan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Kolaborasi Planetarium dan Observatorium, FSH, serta FEBI dalam IES 2026 menunjukkan beragam kontribusi perguruan tinggi Islam, mulai dari pengembangan ilmu pengetahuan, penguatan pendidikan hukum Islam, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat. Ketiga bidang tersebut dihadirkan dalam satu ruang pameran sebagai gambaran keterhubungan keilmuan yang dikembangkan UIN Walisongo.
Indonesia Ekonomi Syariah (IES) 2026 Forum & Expo berlangsung pada 30 Oktober hingga 1 November 2026 di kawasan Masjid Istiqlal, Jakarta. Keikutsertaan UIN Walisongo dalam kegiatan ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan potensi akademik dan kontribusi institusi kepada masyarakat luas. Melalui semangat Unity of Sciences, UIN Walisongo terus berupaya membangun keterhubungan antara ilmu pengetahuan, nilai-nilai keislaman, dan pemberdayaan masyarakat.
