Semarang — Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo Semarang bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan WAKA Entertainment melanjutkan pembahasan riset dan pengembangan film fulldome 360° tentang Pranata Mangsa, Senin (19/10/2026). Kolaborasi ini bertujuan mengangkat pengetahuan tradisional masyarakat Jawa tentang perubahan musim melalui pendekatan sains dan teknologi visual.
Pertemuan yang berlangsung di ruang rapat Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo ini merupakan tindak lanjut dari pembahasan sebelumnya. Agenda kali ini difokuskan pada pendalaman rencana penelitian, pematangan konsep film, serta penyelarasan bentuk kolaborasi antarlembaga.
Pranata Mangsa merupakan sistem penanggalan musim tradisional Jawa yang digunakan masyarakat untuk mengenali perubahan alam, terutama dalam kegiatan pertanian. Di tengah perubahan pola musim dan perkembangan teknologi, pengetahuan ini menarik untuk dikaji kembali melalui penelitian ilmiah sekaligus diperkenalkan kepada generasi muda.
Menurut Kepala Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo, Dr. Muh. Arif Royyani, M.Si., pengembangan ilmu falak saat ini tidak terbatas pada persoalan penentuan hari raya, gerhana, dan arah kiblat, tetapi juga berpotensi diterapkan dalam bidang lain, termasuk pertanian.

Ia menjelaskan bahwa berdasarkan informasi dari kunjungan akademisi dari Malaysia dan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), terdapat perkembangan kajian ilmu falak yang diarahkan pada sistem pertanian serta pengembangan lokasi percontohan (pilot project). Perkembangan tersebut menjadi salah satu peluang untuk memperluas penerapan ilmu falak dalam memahami hubungan antara fenomena langit, perubahan musim, dan aktivitas manusia.
Dalam konteks itu, riset dan pengembangan film tentang Pranata Mangsa diharapkan dapat menjadi sarana untuk mengkaji sekaligus memperkenalkan pengetahuan lokal mengenai musim melalui pendekatan ilmiah dan media edukasi.
Film direncanakan hadir dalam format fulldome 360° dengan memadukan animasi tiga dimensi, narasi, dan dokumentasi lapangan. Melalui pendekatan visual imersif, penonton akan diajak mengenal hubungan antara pergerakan Matahari, perubahan musim, dan kehidupan masyarakat yang memanfaatkan Pranata Mangsa.

Pertemuan tersebut turut membahas peluang menghubungkan pengetahuan lokal dengan nilai-nilai keislaman secara proporsional. Dengan demikian, film diharapkan dapat mempertemukan perspektif sains, budaya, dan keagamaan dalam penyajian yang edukatif tanpa mengabaikan konteks ilmiah maupun tradisi masyarakat.
Sebagai tindak lanjut, ketiga pihak akan melanjutkan pematangan proposal, perencanaan riset lapangan, dan pengembangan konsep film. Hasil penelitian nantinya akan menjadi landasan dalam menyusun narasi serta visualisasi yang akurat dan relevan dengan konteks ilmiah dan budaya Pranata Mangsa.
Melalui kolaborasi ini, Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo berharap pengetahuan lokal tentang langit dan musim dapat diperkenalkan melalui media edukasi yang menarik. Inisiatif ini sekaligus membuka ruang dialog antara ilmu pengetahuan, teknologi, dan kearifan budaya masyarakat.
