Yogyakarta, 30 Agustus 2026 — Astronomi tidak selalu harus diperkenalkan dari tempat yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Justru di tengah kota, ilmu tentang alam semesta dapat dihadirkan lebih dekat kepada masyarakat melalui observatorium yang tidak hanya berorientasi pada pengamatan, tetapi juga pendidikan dan pelayanan publik.
Gagasan tersebut menjadi salah satu pembelajaran utama dalam Pelatihan Peningkatan Mutu Pelayanan Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo Semarang yang dilaksanakan di Griya Antariksa, Yogyakarta, pada 30–31 Agustus 2026.
Sebanyak 10 peserta yang terdiri atas pimpinan dan tim teknis Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo Semarang mengikuti kegiatan tersebut. Kunjungan ke Griya Antariksa menjadi ruang bagi peserta untuk belajar sekaligus bertukar pengalaman mengenai pengelolaan observatorium, pelayanan kepada masyarakat, edukasi astronomi, pemanfaatan instrumen, hingga keberlanjutan fasilitas.
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan pemaparan dari Mutoha Arkanuddin, pegiat astronomi sekaligus pengelola Griya Antariksa.

Observatorium Bukan Sekadar Tempat Mengamati Langit
Salah satu perspektif penting yang diperoleh peserta adalah mengenai fungsi observatorium. Selama ini, observatorium sering dipahami sebagai tempat yang harus berada jauh dari perkotaan dengan kondisi langit yang gelap dan minim polusi cahaya.
Mutoha Arkanuddin menjelaskan bahwa kebutuhan tersebut terutama berlaku untuk observatorium yang berorientasi pada riset astronomi. Pengamatan objek-objek langit yang redup membutuhkan kondisi langit yang optimal agar instrumen dapat menangkap data dengan baik.
Namun, kondisi berbeda berlaku bagi observatorium yang berorientasi pada pelayanan publik.
Observatorium publik dapat berada di tengah kota dan tetap memiliki fungsi yang sangat penting, terutama sebagai sarana untuk memperkenalkan astronomi kepada masyarakat. Tujuan utamanya bukan semata-mata mendapatkan data objek deep sky, melainkan mendekatkan masyarakat dengan astronomi melalui pengalaman belajar dan pengamatan secara langsung.
Bagi masyarakat umum, pengalaman mengamati Bulan melalui teleskop atau melihat Saturnus beserta cincinnya dapat menjadi pengalaman sederhana tetapi sangat berkesan. Dari pengalaman tersebut, rasa ingin tahu terhadap alam semesta dapat tumbuh dan berkembang.
Perspektif ini sekaligus menunjukkan bahwa kualitas sebuah observatorium tidak selalu ditentukan oleh lokasi yang sempurna maupun mahalnya peralatan yang dimiliki.
Membawa Astronomi Lebih Dekat kepada Masyarakat
Griya Antariksa menjadi salah satu contoh bagaimana astronomi dapat dikembangkan sebagai bagian dari kegiatan edukasi masyarakat di lingkungan perkotaan.
Berbagai program dapat dikembangkan untuk memberikan pengalaman astronomi kepada masyarakat, mulai dari kunjungan, pelatihan, Astro Club, hingga kegiatan pengamatan langit.
Salah satu kegiatan yang menarik adalah malam pengamatan umum yang dilaksanakan setiap bulan baru pada malam akhir pekan. Kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengenal langit malam secara langsung tanpa harus memiliki pengetahuan astronomi sebelumnya.
Selain itu, terdapat kegiatan Family Night yang memberikan ruang bagi keluarga dan para pecinta langit untuk menikmati pengalaman pengamatan astronomi secara bersama-sama.
Dalam kegiatan tersebut, peran Pemandu Antariksa (PA) menjadi penting. Pemandu bukan sekadar membantu pengunjung menggunakan fasilitas, tetapi juga menjadi penghubung antara pengetahuan astronomi dan masyarakat. Kemampuan menjelaskan fenomena langit dengan bahasa yang sederhana menjadi bagian dari kualitas pelayanan sebuah observatorium.
Menumbuhkan Ketertarikan Astronomi Sejak Dini
Upaya mendekatkan astronomi kepada masyarakat juga berkaitan erat dengan pendidikan generasi muda.
Kepala Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo, Dr. Muh. Arif Royyani, Lc., M.S.I., menilai bahwa pengenalan sains, khususnya astronomi, perlu dilakukan sejak dini dengan pendekatan yang menarik dan interaktif.
Menurutnya, membangun ketertarikan anak terhadap sains tidak harus selalu dilakukan melalui pembelajaran teori yang berat. Kegiatan yang bersifat praktik dan memancing rasa ingin tahu dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan sains kepada mereka.
“Perlunya meningkatkan minat anak-anak terhadap sains khususnya bidang astronomi. Edukasi sejak dini itu penting sekali, kita bisa mengadakan lomba pembuatan roket air, robotik, dan sejenisnya,” ujar Dr. Muh. Arif Royyani, Lc., M.S.I.
Gagasan tersebut membuka peluang bagi Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo untuk mengembangkan kegiatan edukasi yang lebih beragam. Astronomi dapat dipadukan dengan aktivitas teknologi, eksperimen, dan kreativitas sehingga anak-anak tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga pengalaman belajar yang menyenangkan.
Tantangan Mengembangkan Astronomi di Tengah Kota
Menghadirkan observatorium di tengah kota tentu bukan tanpa tantangan. Salah satu persoalan yang dihadapi adalah polusi cahaya, terutama dalam kegiatan pengamatan objek langit yang redup dan astrofotografi.
Kondisi perkotaan membuat pengelola perlu lebih kreatif dalam menentukan objek pengamatan maupun program yang ditawarkan kepada masyarakat.
Namun, keterbatasan tersebut tidak berarti observatorium publik kehilangan fungsinya. Justru, kondisi tersebut mendorong pengelola untuk mengembangkan kegiatan yang sesuai dengan karakteristik langit perkotaan.
Pengamatan Bulan dan planet terang, misalnya, tetap dapat menjadi pengalaman yang menarik bagi masyarakat. Sementara itu, planetarium dapat menjadi sarana untuk menghadirkan berbagai objek dan fenomena alam semesta yang tidak selalu dapat diamati langsung dari langit perkotaan.
Karena itu, konten planetarium juga perlu dikembangkan agar tidak monoton, menarik bagi berbagai kelompok usia, dan tetap memperhatikan efisiensi dalam pengelolaannya.
Kualitas Alat Bukan Satu-satunya Ukuran
Dalam pengelolaan observatorium, kemampuan mengoptimalkan fasilitas yang tersedia menjadi salah satu hal yang tidak kalah penting.
Mutoha Arkanuddin menekankan bahwa harga sebuah alat tidak secara otomatis menentukan kualitas layanan. Peralatan yang mahal tetap membutuhkan pengelolaan, pemanfaatan, dan perawatan yang tepat agar dapat memberikan manfaat maksimal.
Pemeliharaan instrumen optik menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan observatorium. Bahkan, sejumlah kebutuhan fasilitas dapat dikembangkan secara mandiri. Pengalaman Griya Antariksa dalam melakukan pemeliharaan peralatan, termasuk mengembangkan dome teleskop secara mandiri, menjadi salah satu pengetahuan praktis yang menarik bagi tim teknis UIN Walisongo.
Hal ini memberikan pelajaran bahwa peningkatan mutu layanan tidak hanya berbicara tentang pengadaan peralatan baru, tetapi juga bagaimana merawat, mengoptimalkan, dan mengembangkan fasilitas yang sudah dimiliki.
Dari Observatorium Menuju Astronomi yang Berkelanjutan
Hal lain yang menjadi perhatian dalam pelatihan adalah gagasan astropreneur, yaitu mengembangkan kegiatan astronomi dengan pendekatan kewirausahaan.
Gagasan ini muncul dari kebutuhan untuk menjaga agar observatorium dapat terus berjalan dan memenuhi kebutuhan operasional maupun pemeliharaan. Sebuah observatorium membutuhkan biaya untuk merawat instrumen, mengembangkan program, dan memberikan pelayanan secara berkelanjutan.
Karena itu, kegiatan astronomi dapat dikembangkan tidak hanya sebagai aktivitas edukasi, tetapi juga melalui program-program kreatif yang mampu memberikan nilai tambah sekaligus mendukung keberlangsungan pengelolaan observatorium.
Griya Antariksa sendiri memiliki berbagai kegiatan, menjalin kemitraan, termasuk dengan Kementerian Agama, serta mengikuti berbagai kegiatan astronomi global. Pengalaman tersebut menjadi bahan pembelajaran bagi peserta dalam melihat kemungkinan pengembangan layanan astronomi secara lebih luas.
Membumikan Astronomi dari Tengah Kota
Kunjungan ke Griya Antariksa memberikan perspektif baru bagi pimpinan dan tim teknis Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo Semarang. Peningkatan mutu layanan ternyata tidak hanya berkaitan dengan kecanggihan teleskop atau kemampuan mengamati benda-benda langit.
Lebih dari itu, mutu pelayanan juga menyangkut bagaimana masyarakat diterima, bagaimana astronomi dijelaskan, bagaimana program dikembangkan, bagaimana fasilitas dirawat, serta bagaimana observatorium dapat terus memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Melalui kegiatan ini, Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo Semarang memiliki kesempatan untuk belajar dari pengalaman praktis Griya Antariksa dalam menghadirkan astronomi lebih dekat kepada masyarakat.
Pada akhirnya, observatorium bukan sekadar tempat untuk memandang langit. Ia dapat menjadi ruang pendidikan, penelitian, pelayanan publik, dan tempat tumbuhnya rasa ingin tahu terhadap alam semesta.
Dari tengah kota, astronomi dapat terus dibumikan—dihadirkan lebih dekat, lebih terbuka, dan lebih menyenangkan bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
