YOGYAKARTA – Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo Semarang terus berkomitmen memperkuat perannya sebagai pusat rujukan keilmuan falak dan astronomi bagi masyarakat. Sebagai langkah nyata, seluruh tim pengelola Planobs melakukan kunjungan langsung ke Griya Antariksa di Yogyakarta dalam agenda “Pelatihan Peningkatan Mutu Pelayanan” yang berlangsung pada 30-31 Agustus 2026. Pada kunjungan kali ini, salah satu fokus pembahasannya adalah optimalisasi layanan Planetarium, strategi kemandirian produksi konten edukasi visual, hingga pengembangan fasilitas pendukung.
Kepala Bagian Umum UIN Walisongo, Fathul Himam, S.Ag., M.Pd.I., yang mendampingi rombongan menegaskan bahwa lawatan ke Yogyakarta ini merupakan wujud nyata dari semangat terus belajar (uthlubul ilma minal mahdi ilal lahdi).
“UIN Walisongo saat ini telah menjadi rujukan masyarakat luas dalam mempelajari Ilmu Falak dan Astronomi secara umum. Oleh karena itu, perjalanan ke Griya Antariksa ini sangat kami butuhkan agar kami dapat menggali ilmu baru untuk memberikan pelayanan Planetarium yang maksimal, mutakhir, dan memuaskan bagi masyarakat,” ungkap Fathul Himam.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo Semarang, Muh. Arif Royyani, Lc., M.S.I., turut menyampaikan apresiasi mendalam atas kesediaan Griya Antariksa dalam menyambut dan mendampingi langkah Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo. Kunjungan ini dinilainya sangat berkesan karena Griya Antariksa merupakan salah satu sumber motivasi awalnya dalam mengembangkan fasilitas keantariksaan.
“Alhamdulillah Bapak (Mutoha) berkenan mendampingi dan terlibat langsung dalam acara ini. Semoga ke depannya dapat terus memberikan arahan dan dukungan bagi kami agar layanan Planetarium UIN Walisongo bisa semakin meningkat,” ujar Kepala Planobs.
Lebih lanjut, Bapak Arif Royyani juga memaparkan visi pengembangan fasilitas pendukung Planetarium ke depan. Ia berharap UIN Walisongo dapat membangun galeri astronomi yang representatif dan setara dengan Museum Tahir.
“Saya yakin Pak Mutoha sangat ahli dan mudah dalam membuat miniatur atau replika antariksa. Kita harus terus bersinergi untuk mengembangkan layanan Planetarium kita agar jauh lebih berkembang,” tambahnya.
Dalam diskusi pengembangan ini, tim UIN Walisongo disambut langsung oleh Drs. Mutoha Arkanudin, M.Ag., Founder Griya Antariksa Yogyakarta. Beliau mengingatkan bahwa tugas edukasi yang diemban oleh sebuah planetarium sangatlah besar.
Mutoha menekankan pentingnya memaksimalkan layanan tayangan Planetarium sebagai sarana pembelajaran interaktif.
“Layanan visual untuk pembelajaran astronomi harus dioptimalkan agar masyarakat memahami betapa pentingnya keilmuan ini. Di dalam penayangannya, perlu diselipkan materi edukasi astronomi yang mudah dipahami bagi masyarakat umum, terutama siswa-siswa sekolah dasar (SD),” paparnya.
Sebagai solusi atas tantangan tersebut, Mutoha mendorong Planetarium UIN Walisongo untuk mulai memproduksi konten secara mandiri (in-house).
“Ada konten-konten yang sebenarnya bisa kita buat sendiri tanpa harus selalu membeli lisensi mahal. Kita harus mulai bekerja sama dengan pembuat film atau animator lokal untuk memproduksi konten-konten visual astronomi yang ingin kita implementasikan di dalam kubah Planetarium,” saran beliau.
Melalui lawatan di penghujung Agustus 2026 ini, Planetarium UIN Walisongo menargetkan agar konten edukasi mandiri dan galeri astronomi yang nantinya diproduksi dapat diintegrasikan dengan kurikulum, khususnya untuk institusi pendidikan di bawah naungan Kementerian Agama. Langkah strategis ini diharapkan menjadikan Planetarium UIN Walisongo berdaya saing tinggi sekaligus efisien dalam mengedukasi masyarakat.
