Semarang – Planetarium dan Observatorium K.H. Zubair Umar Al-Jailani UIN Walisongo Semarang kembali menjadi pusat pembelajaran Ilmu Falak berbasis praktik melalui kegiatan Student Mobility yang diikuti sekitar 60 mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) Wonosobo, Rabu (15/7/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan sinergi antara disiplin Ilmu Falak dan Hukum Islam, dengan menggabungkan pembelajaran teori dan praktik lapangan mengenai Yaum Rashdul Qiblat serta Rukyatul Hilal.

Rombongan mahasiswa dipimpin oleh Muhammad Afan Nur Atqiya, M.H., dosen Program Studi HKI UNSIQ Wonosobo, yang memiliki kedekatan akademik dengan UIN Walisongo. Afan merupakan alumni Program Studi S1 dan S2 Ilmu Falak UIN Walisongo Semarang serta pernah mengabdi sebagai staf Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo. Kehadirannya bersama mahasiswa menjadi simbol keberlanjutan jejaring akademik sekaligus estafet keilmuan antara almamater dan institusi tempatnya mengabdi saat ini.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo, Dr. H. Muh. Arif Royyani, Lc., M.S.I. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa program Student Mobility merupakan sarana penting untuk memperluas wawasan mahasiswa melalui pembelajaran berbasis pengalaman langsung.

“Ilmu Falak tidak dapat dipisahkan dari Hukum Islam. Penentuan arah kiblat, waktu salat, awal bulan Hijriah, hingga gerhana merupakan persoalan fikih yang membutuhkan pendekatan astronomi. Karena itu, mahasiswa Hukum Islam perlu memahami dasar-dasar Ilmu Falak agar mampu menjawab berbagai persoalan keagamaan secara komprehensif dan ilmiah,” ungkapnya.

Beliau menambahkan bahwa Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo senantiasa membuka ruang kolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi sebagai bagian dari komitmen dalam mengembangkan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat di bidang Ilmu Falak.

Momentum pelaksanaan kegiatan ini terasa semakin istimewa karena bertepatan dengan Yaum Rashdul Qiblat, yakni fenomena astronomi ketika Matahari berada tepat di atas Ka’bah sehingga bayangan benda tegak dapat digunakan untuk menentukan arah kiblat dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi. Fenomena yang hanya terjadi dua kali dalam setahun tersebut dimanfaatkan sebagai media pembelajaran lapangan bagi para mahasiswa.

Materi mengenai Yaum Rashdul Qiblat disampaikan oleh Sdr. Fajri, S.H., staf Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo. Dalam sesi ini, mahasiswa mempelajari dasar-dasar astronomi yang melatarbelakangi fenomena tersebut, teknik pengukuran arah kiblat menggunakan bayangan Matahari, serta praktik penggunaan berbagai instrumen falak modern untuk memverifikasi hasil pengukuran.

Selanjutnya, peserta memperoleh materi mengenai Rukyatul Hilal yang disampaikan oleh Ihtirozun Ni’am,M.H., dosen Program Studi S1 Ilmu Falak UIN Walisongo. Materi tersebut membahas hubungan antara fikih dan astronomi dalam penentuan awal bulan Hijriah, kriteria visibilitas hilal, teknik observasi, hingga penggunaan teleskop dan perangkat observasi modern.

Menariknya, kegiatan ini juga bertepatan dengan akhir bulan Muharram 1448 Hijriah, sehingga rangkaian pelatihan ditutup dengan observasi rukyatul hilal awal bulan Safar 1448 H di Observatorium UIN Walisongo. Setelah mendapatkan pembekalan teori, seluruh peserta bersama narasumber dan tim Planetarium melakukan pengamatan hilal menggunakan berbagai instrumen observasi.

Berkat kondisi langit yang cukup cerah, sejumlah mahasiswa UNSIQ berhasil menyaksikan hilal awal bulan Safar, baik melalui teleskop robotik maupun secara langsung dengan mata telanjang. Keberhasilan tersebut disambut dengan penuh kegembiraan oleh para peserta. Bagi sebagian besar mahasiswa, pengalaman tersebut merupakan pengamatan hilal pertama dalam kehidupan mereka.

Sorak bahagia dan rasa syukur tampak menghiasi suasana observatorium ketika para mahasiswa berhasil melihat sabit tipis yang menandai datangnya bulan Safar. Pengalaman tersebut menjadi momen yang tidak hanya memperkaya wawasan akademik, tetapi juga memberikan pengalaman spiritual yang mendalam mengenai implementasi Ilmu Falak dalam praktik kehidupan umat Islam.

Dosen pendamping, Muhammad Afan Nur Atqiya, M.H., mengungkapkan bahwa kegiatan ini memiliki makna yang sangat istimewa baginya. Sebagai alumni S1 dan S2 Ilmu Falak UIN Walisongo sekaligus mantan staf Planetarium, ia merasa bangga dapat kembali ke almamaternya dengan membawa mahasiswa untuk belajar secara langsung dari para dosen dan praktisi Ilmu Falak.

“Saya merasa seperti pulang ke rumah sendiri. Banyak ilmu dan pengalaman yang saya peroleh selama belajar dan mengabdi di Planetarium UIN Walisongo. Hari ini saya berkesempatan mengantarkan mahasiswa UNSIQ merasakan pengalaman yang sama. Melihat mereka berhasil menyaksikan hilal secara langsung menjadi kebahagiaan tersendiri. Pengalaman seperti ini tidak dapat tergantikan oleh pembelajaran di dalam kelas,” tuturnya.

Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi refleksi dan foto bersama. Keberhasilan para mahasiswa menyaksikan hilal menjadi penutup yang berkesan dalam rangkaian Student Mobility UNSIQ Wonosobo di Planetarium dan Observatorium K.H. Zubair Umar Al-Jailani UIN Walisongo Semarang.

Program ini tidak hanya memberikan pengalaman praktis dalam pengukuran arah kiblat dan rukyatul hilal, tetapi juga memperkuat sinergi antara Ilmu Falak dan Hukum Islam sebagai dua disiplin ilmu yang saling melengkapi. Melalui kolaborasi seperti ini, Planetarium dan Observatorium K.H. Zubair Umar Al-Jailani UIN Walisongo terus meneguhkan perannya sebagai pusat pembelajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat di bidang Ilmu Falak, sekaligus menjadi ruang kolaborasi akademik yang melahirkan pengalaman belajar yang kontekstual, aplikatif, dan inspiratif bagi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *